Ini adalah blog saya. isinya apa saja yang menurut saya baik... . Yang memotivasi dan menginspirasi ... . Pokoknya apa aja, yang penting berguna bagi saya (syukur bisa berguna juga bagi semua orang lain...amiinn). . Apa yang ada disini bisa bersumber dari mana saja. Ada yang mengutip dari sumber lain, ada juga yang "ujug-ujug" nongol sendiri di pikiran saya. . so, JIKA ADA MANFAAT BUATMU, AMBILLAH.... WELCOME AND ENJOY IT :)
Monday, June 1, 2020
Sabar ya dek....
Tuesday, February 18, 2020
SORGA BUKAN CERITA DI INDONESIA
BOLU PISANG DAN ES KRIM
(Mbak, bisa buatin bolu pisang?) Sebuah pesan masuk.
Alhamdulillah tak sia-sia mengisi pulsa data beberapa hari yang lalu dan mengaktifkan WA ku. Ada pesanan masuk.
Sunday, November 24, 2019
SIMPLE ACT
JADILAH BAHAGIA
Thursday, November 15, 2018
NASIHAT ORANGTUA
*KISAH INSPIRATIF*
NASIHAT ORANGTUA
Ada seorang anak yang mulai tidak betah tinggal di rumahnya sendiri. Dia kesak karena ayah ibunya selalu ngomel. Dia tak suka bila ayahnya mengomelinya untuk hal-hal kecil ini..
"Nak, kalau keluar kamar matikan kipas anginnya."
“Matikan TV, jangan biarkan hidup tapi tak ada yang menonton
“Simpan pena di tempatnya, yang jatuh ke kolong meja ”
Tiap hari dia harus ta'at pada hal-hal ini sejak kecil, saat bersama keluarga di rumah.
Maka tibalah hari ini, saat dia menerima panggilan untuk wawancara kerja...
“Dalam hati dia berkata: "Begitu mendapat pekerjaan, saya akan sewa rumah sendiri. Tak akan ada lagi omelan ibu ayah," begitu pikirnya.
Ketika hendak pergi untuk interview, ayahnya berpesan:
“Nak, jawablah pertanyaan yang diajukan tanpa ragu-ragu. Bahkan jika engkau tidak tahu jawabannya, katakan sejujurnya dengan percaya diri.. ”
Ayahnya memberinya uang lebih banyak dari ongkos yang dibutuhkan untuk menghadiri wawancara..
Setiba di pusat wawancara, diperhatikannya bahwa tidak ada penjaga keamanan di pintu gerbang. Meskipun pintunya terbuka, gerendelnya menonjol keluar, dan bisa membuat yang lewat pintu itu menabrak atau bajunya tersangkut grendel
Dia geser gerendel ke posisi yang benar, menutup pintu dan masuk menuju kantor.
Di kedua sisi jalan dia lihat tanaman bunga yang indah. Tapi ada air mengalir dari selang dan tak ada seorang pun disekitar situ. Air meluap ke jalan setapak.
Diangkatnya selang dan diletakkannya di dekat salah satu tanaman dan melanjutkan kembali langkahnya.
Tak ada seorang pun di area resepsionis. Namun, ada petunjuk bahwa wawancara di lantai dua. . Dia perlahan menaiki tangga.
Lampu yang dinyalakan semalam masih menyala, padahal sudah pukul 10 pagi. Peringatan ayahnya terngiang di telinganya: "Mengapa kamu meninggalkan ruangan tanpa mematikan lampu!" Dia merasa agak jengkel oleh pikiran itu, namun dia tetap mencari saklar dan mematikan lampu.
Di lantai atas di aula besar dia lihat banyak calon duduk menunggu giliran.
Melihat banyaknya pelamar, dia bertanya-tanya, apakah masih ada peluang baginya untuk diterima?
Diapun menuju aula dengan sedikit gentar dan menginjak karpet dekat pintu bertuliskan "Selamat Datang" .
Diperhatikannya bahwa karpet itu terbalik. Spontan saja dia betulkan, walau dengan sedikit kesal.
Dilihatnya di beberapa baris di depan banyak yang menunggu giliran, sedangkan barisan belakang kosong,
Terdengar suara kipas angin, Dimatikanya kipas yang tidak dimanfaatkan dan duduk di salah satu kursi yang kosong..
Banyak pria memasuki ruang wawancara dan segera pergi dari pintu lain. Sehingga tak mungkin ada yang bisa menebak apa yang ditanyakan dalam wawancara.
Tibalah gilirannya, Dia masuk dan berdiri di hadapan pewawancara dengan agak gemetar dan pesimis..
Sesampainya di depan meja, pewawancara langsung mengambil sertifikat, dan tanpa bertanya langsung berkata "Kapan Anda bisa mulai bekerja?"
Dia terkejut dan berpikir, "apakah ini pertanyaan jebakan, atau tanda bahwa telah diterima untuk bekerja disitu?"
Dia bingung.
Apa yang Anda pikirkan?" tanya sang boss lalu melanjutkan: "Kami tidak mengajukan pertanyaan kepada siapa pun di sini. Sebab hanya dengan mengajukan beberapa pertanyaan, kami tak akan dapat menilai siapa pun. Tes kami adalah untuk menilai sikap orang tersebut.. Kami melakukan tes tertentu berdasarkan sikap para calon..
Kami mengamati setiap orang melalui CCTV, apa saja yg dilakukannya ketika melihat gerendel di pintu, selang air yang mengalir, keset "selamat datang", kipas atau lampu yang tak perlu..
Anda satu-satunya yang melakukan. Itu sebabnya kami memutuskan untuk memilih Anda ”
Hatinya terharu, dia ingat ayahnya.. Dia yg selalu merasa jengkel terhadap disiplin dan omelan ibu ayahnya. Kini dia menyadari bahwa justru omelan dan disiplin yg ditanamkan orangtuanyalah yang membuatnya diterima pada perusahaan yang diinginkannya..Kekesalan dan kemarahannya pada ayahnya seketika sirna..
"....hanya Anda satu-satunya yang melakukan apa yang kami harapkan dari seorang manajer, maka kami putuskan menerima Anda bekerja disini......."
Ayah, ma'afkan anakmu, bisiknya dalam hati penuh rasa haru dan bersyukur.
Dia akan minta maaf kpd ayahnya, dia akan ajak ayahnya melihat tempat kerjanya..
Dia pulang ke rumah dengan bahagia..
*"Every good things, always makenanother good things"*
#copas
Tuesday, November 13, 2018
MAAFKAN AYAH NAK
KAU MARAH DAN MEMBENTAK ANAKMU?
Ketika ia minta ditemani tidur, padahal tubuhmu sudah lelah, dan engkau tau bahwa ia bisa tidur sendiri. Lalu, rengekkannya menaikan emosi, maka tanpa terkontrol lagi, keluarlah suara tinggi, membentak, dan atau sikap yang tidak menyenangkan lainnya.
Ia pun terdiam. Kaget. Tapi, sebetulnya lebih dari itu, hati kecilnya terluka.
Ia lalu dengan patuhnya naik sendiri ke atas tempat tidur, memeluk guling, menghadap dinding, dan berusaha menenangkan hati yang terluka dan meminimalisir rasa sedih.
Sebetulnya, ia hanya ingin bersamamu. Hanya tidak tahu bagaimana memintanya dengan cara menyenangkan. Ia hanya ingin dekat denganmu, karena hanya bau tubuhmu yang memberikannya kenyamanan. Sayangnya, otak kecilnya belum cukup bersambungan untuk mengerti, bahwa.. engkau sudah letih,lelah, capek... dengan segala aktifitasmu yang dimulai bahkan sebelum matahari menunjukkan dirinya. Ia belum paham.
Maka dalam sedihnya, menghadap dinding, ia pun perlahan terlelap.
Perlahan tapi pasti, rasa sedih dan menyesal itu menyelinap perlahan kedalam hatimu. Engkau sadar, reaksimu tadi berlebihan. Teriak tadi terlalu kencang, atau apapun itu, yang membuat hati kecil buah hatimu terluka, sebetulnya tidak perlu segitunya.
Lalu, dengan dada yang penuh sesak dengan penyesalan.. engkau berbalik dan memandang tubuh dan wajah kecilnya yang sudah terlelap karena sedih tadi. Engkau ciumi wajah itu, terkadang menetes airmata tanpa terasa. Kau ciumi tangan mungil itu. Memohon maaf padanya, saat ia tidak sadar akan kehadiranmu disitu.
Sudah berapa kali seperti ini?
Akan berapa kali lagi?
Kenapa emosi susah sekali dikontrol, terutama ketika sedang letih atau mengantuk yang luar biasa? Atau ketika melihat rumah yang tak kunjung rapi? Daftar kerjaan yang seakan tidak berkurang sejak pagi?
Lalu menyesal dan mengulangi lagi.
Mungkin esok bukan milik kita lagi.
Mahluk kecil itu milik Ilahi, yang dititipkan ke tanganmu, untuk kau jaga sementara waktu. Diciptakan oleh NYA, agar ia sepenuhnya bergantung padamu diusianya yang sekecil
ini. Mengapa sulit untuk dimengerti ketika lelah melanda, bahwa ia tidak memiliki perasaan apapun terhadapmu, kecuali rasa CINTA.
Yang masih ia pelajari cara untuk mengungkapkannya dengan segala sikap, suara, bentuk dan rasa. Ia hanya ingin dekat denganmu, itu saja! Setiap waktu. Selalu.
Oleh sebab itu, jika semua perasaan lelah, letih, putus asa, ngantuk, kesel sedang melandamu, lalu ia datang padamu dengan keinginan tubuh kecilnya yang sebetulnya tidak seberapa itu... tarik nafas, istighfar, senyum dan menunduk lah. Tatap matanya dan perhatikan keinginannya. Jika engkau belum bisa memenuhinya sekarang, senyum.. jawab baik-baik.
Insha Allah perlahan ia akan mengerti, bahwa penolakanmu bukan berarti kau tidak mencintainya, hanya penundaan sementara. Perlahan ia akan mengerti dan belajar untuk melakukan itu sendiri, tanpa bantuanmu dan pendampingamu lagi.
Perlahan.. ia akan melepaskan genggamanmu.. dan kuat bangun dan berjalan sendiri.
Perlahan..
Sabarlah wahai bunda, ingatlah rengekannya hanyalah ungkapan sayangnya padamu. Betapa ia tidak bosan mengharapmu senantiasa disisi. Sabarlah mama... ada waktunya nanti, tidur mama tidak terganggu lagi, rumah akan senantiasa bersih.
Tapi untuk sekarang mama, hadapilah tangisan, rengekkan dengan : tarikan nafas, senyum, dan merendahkan tubuhmu setara dengan pandangan matanya.. senyum dan pandanglah ia. Buah hatimu tidak akan sekecil itu selamanya.
Smile mama.. those little angels, they only have ❤️ for you.
#SelfReminder
Wednesday, September 19, 2018
REJEKI ITU MUTLAK MILIK ALLAH SWT
Serasa ditampar 😢😢😢
"Saya nggak mau jadi ibu rumah tangga saja. Kalau suami meninggal atau kita bercerai, gimana? Siapa yang kasih makan saya dan anak-anak? Istri itu harus mandiri finansial supaya bisa punya uang untuk jaga-jaga kalau ada apa-apa dengan suami."
Seketika, kalimat itu buyar kala saya berhadapan dengan seorang wanita berusia 47 tahun yang datang ke rumah saya untuk mengisi pengajian.
Wanita bersahaja itu datang jauh-jauh, cukup jauh dari komplek perumahan tempat tinggal saya, untuk memberi pengajian secara gratis. Ingat, gratis lho.... Nggak ada bayaran sepeser pun kecuali sajian makan siang yang saya berikan. Dia datang untuk menggantikan guru ngaji saya yang berhalangan.
Sambil menunggu teman-teman lain, kami ngobrol-ngobrol.
"Coba tebak, anak saya berapa, Bu?" tanyanya, ketika kami sedang ngobrol soal anak-anak.
Saya sedikit mengeluhkan kondisi rumah yang berantakan karena anak-anak nggak bisa diam, lalu dia memaklumkan.
Namanya juga anak-anak. Dia sudah berpengalaman karena anaknya lebih banyak dari saya.
"Ehm... empat?" (pikir saya, paling-paling cuma selisih satu).
"Masih jauh...."
"Tujuh...."
"Kurang... yang benar, delapan."
Mata saya membelalak. Masya Allah! DELAPAN?!
"Itu masih kurang, Bu. Ustadzah Fulanah Rahimahallaah saja anaknya 13. Jadi, saya ini belum ada apa-apanya," katanya, merendah.
Setelah itu, mengalirlah cerita-ceritanya mengenai anak-anaknya sampai teman-teman saya datang dan acara mengaji pun dimulai.
Di sela pengajian, wanita itu bercerita mengenai keluarganya. Dari situ saya baru tahu kalau suaminya sudah meninggal dunia! Meninggal karena kecelakaan motor, meninggalkan istri dan delapan anak, yang terkecil berusia 2,5 tahun dan sang istri, ya... wanita itu... seorang IBU RUMAH TANGGA.
Ibu rumah tangga di sini maksudnya nggak kerja kantoran, tapi juga bukan pengangguran. Beliau aktif mengisi pengajian.
Lalu, bagaimana kehidupannya setelah suaminya meninggal? Beliau nggak punya gaji, nggak kerja kantoran. Coba, gimana? Apa beliau lalu sengsara dan anak-anaknya putus sekolah? No. no, no....
Kalau saya mengingat kalimat pembuka di atas kok kayaknya mustahil ya seorang ibu yang nggak bekerja dan suaminya meninggal dunia, bisa bertahan hidup dengan delapan anak dan anak-anaknya bisa tetap kuliah. Mustahil itu... NGGAK MUNGKIN!
"Bagi Allah, nggak ada yang nggak mungkin, Bu. Asal kita percaya sama Allah. Allah yang kasih rezeki, kan? Percaya saja sama Allah. Saya cuma yakin bahwa semua yang saya dapatkan selama ini adalah karena kebaikan-kebaikan saya dan suami semasa hidup.
Saya cuma berbagi pengalaman ya, Bu, bukan mau riya. Memang, suami saya dulu itu orangnya pemurah. Kalau ada yang minta bantuan, dia akan kasih walaupun dia uangnya pas-pasan. Alhamdulillah, Allah kasih ganti. Sewaktu suami masih hidup, kami hidup sederhana. Rezeki suami itu dibagi ke orang-orang juga, padahal anak kami ada delapan. Suami nggak takut kekurangan....."
Kami menahan napas.....
"Hingga suami saya meninggal dunia... uang duka yang kami dapatkan itu... Masya Allah... jumlahnya 100 juta. Padahal, suami saya itu biasa-biasa saja, bukan orang penting. Uang itu langsung dibuat biaya pemakaman, tabungan pendidikan anak, dan sisanya renovasi rumah yang mau ambruk."
Dengar uang 100 juta dari uang duka saja, saya sudah kagum.
"Saat renovasi rumah, saya serahkan saja ke tukangnya. Dia bilang, uangnya kurang. Saya lillahi ta'ala saja. Yang penting atap rumah nggak ambruk, karena memang kondisinya sudah memprihatinkan. Khawatirnya anak-anak ketimpa atap....."
Saya membayangkan, keajaiban apa lagi yang didapatkan oleh wanita itu?
"Nggak disangka. Begitu orang-orang tau kalau saya sedang renovasi rumah, mereka menyumbang. Bukan ratusan ribu, tapi puluhan juta! Sampai terkumpul 100 juta lagi dan rumah saya seperti bisa dilihat sekarang.... Sampai hari ini, saya masih dapat transferan uang dari mana-mana, Bu-Ibu. Saya nggak tau dari siapa aja karena mereka nggak bilang. Saya juga udah nggak pernah beli beras lagi sejak suami meninggal. Selalu ada yang kasih beras."
Duh, nggak bisa nahan airmata deh jadinya....
Apa rahasianya?
"Berbuat baik kepada siapa saja, sekecil apa pun. Insya Allah ada balasannya. Rezeki itu milik Allah. Kalau Allah berkehendak, Dia akan kasih dari mana pun asalnya...." tutupnya.
Rezeki itu milik Allah, siapa pun tidak boleh takabur. Bekerja bukanlah sarana menyombongkan diri bahwa hidup kita bakal terjamin karena bekerja. Yang menjamin hidup kita adalah Allah. Bekerja diniatkan untuk ibadah. Pembuka rezeki bisa datang dari mana saja, salah satunya dari berbuat kebaikan sekecil apa pun.
Ucapan, "Kalau suami meninggal atau bercerai, siapa yang kasih makan saya dan anak-anak?" itu sama saja dengan SYIRIK, atau MENDUAKAN ALLAH.
Menganggap diri kita super, dengan kita bekerja, maka rezeki terjamin. Padahal, ALLAH YANG KASIH REZEKI. Jika dulu Allah kasih rezeki melalui suami, besok Allah kasih lewat jalan lain. From Allah to Allah.
〰〰〰〰〰
Copas
"Rejeki Itu Dari Allaah
Oleh: Leila Hana
Tuesday, August 21, 2018
FOKUS
"FOKUS"
Ada seorang anak yang setiap hari rajin sholat ke masjid, lalu suatu hari ia berkata kepada ayahnya,
"Yah mulai hari ini saya tidak mau ke masjid lagi"
"Lho kenapa?" sahut sang ayah.
"Karena di masjid saya menemukan orang² yang kelihatannya agamis tapi sebenarnya tidak, ada yang sibuk dengan gadgetnya, sementara yang lain membicarakan keburukan orang lain".
Sang ayah pun berpikir sejenak dan berkata, "Baiklah kalau begitu, tapi ada satu syarat yang harus kamu lakukan setelah itu terserah kamu".
"Apa itu?"
"Ambillah air satu gelas penuh, lalu bawa keliling masjid, ingat jangan sampai ada air yang tumpah".
Si anak pun membawa segelas air berkeliling masjid dengan hati², hingga tak ada setetes air pun yang jatuh.
Sesampai di rumah sang ayah bertanya, "Bagaimana sudah kamu bawa air itu keliling masjid?",
"Sudah".
"Apakah ada yang tumpah?"
"Tidak".
"Apakah di masjid tadi ada orang yang sibuk dengan gadgetnya?".
"Wah, saya tidak tahu karena pandangan saya hanya tertuju pada gelas ini", jawab si anak.
"Apakah di masjid tadi ada orang² yang membicarakan kejelekan orang lain?", tanya sang ayah lagi.
"Wah, saya tidak dengar karena saya hanya konsentrasi menjaga air dalam gelas".
Sang ayah pun tersenyum lalu berkata, "Begitulah hidup anakku, jika kamu fokus pada tujuan hidupmu, kamu tidak akan punya waktu untuk menilai kejelekan orang lain. Jangan sampai kesibukanmu menilai kualitas orang lain membuatmu lupa akan kualitas dirimu".
Marilah kita fokus pada diri sendiri dalam beribadah, bekerja dan untuk terus menerus bebenah menjadi positif.
Semoga kita menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.
Thursday, July 26, 2018
JOGJA
FAKTA UNIK MAHASISWA JOGJA
1.Mahasiswa Jogja adalah lulusan sekolah menengah (ya iyalah!)
2. Mahasiswa Jogja justru lebih banyak yang tinggal dan kuliah di Sleman
3. Atau Bantul dan
Sebagian mahasiswa Jogja adalah perantau
4.jogja sekarang lebih panas, lebih macet, lebih padat dibandingkan pas kuliah dulu
5. sebagian mahasiswa Jogja memakai sepeda motor dengan plat bukan AB
6. Di Jogja, ada plat kendaraan mulai dari BK sampai DS
7. Mulai dari DK sampai KT
8. Mahasiswa Jogja era tertentu, pernah merasakan nikmatnya pacaran di warnet (yang berbilik tinggi, yang pakai sofa)
9. Atau merasakan begadang di warnet dengan paket hemat internetan yang mantap jaya
10. Atau ngopi file bokep di warnet
11. Atau jaga warnet sekalian
12. Sebelum tahun 2012, mahasiswa kampus manapun pasti pernah sekadar numpang nongkrong di UGM
13. Ngider-ngider serasa mahasiswa UGM, padahal cuma mampir
14. Mahasiswa Jogja pasti pernah baca iklan 'telat haid' di tiang listrik
15. Mahasiswa Jogja yang polos nggak akan ngerti maksud tulisan tersebut
16. Mahasiswa Jogja pasti pernah keliling pameran komputer tanpa beli apapun
17. Dan hanya bawa oleh-oleh brosur
18. Itu juga berangkatnya rombongan satu kosan
19. Orang yang pernah jadi mahasiswa Jogja, punya 1001 alasan untuk kembali ke Jogja
20. Sebagian mahasiswa Jogja pernah bermalam mingguan di Lembah UGM
21. Oh, atau berminggu pagian
22. Mahasiswa rantau Jogja pernah ke Candi Prambanan atau Candi Borobudur
23. Padahal itu di Klaten dan Magelang
24. Tapi jarang yang pernah ke Candi Kalasan
25. Apalagi ke Candi Gebang
26. Mahasiswa Jogja pasti pernah shopping di Mirota Kampus
27. Atau Vikita
28. Atau Gardena
29. Atau Pamela
30. Mahasiswa Jogja pasti akrab dengan aneka Pogung: Lor, Kidul, Baru
31. Atau aneka jenis nama jalan Pandega
32. Sebagian mahasiswa asli Jogja justru belum pernah foto di Tugu
33. Juga belum pernah masangin
34. Juga masuk ke Kraton
35. Seluruh mahasiswa Jogja pasti tahu rubrik 'Sungguh-Sungguh Terjadi'
36. Atau 'Duh Gusti!'
37. Sebagian mahasiswa rantau tempoe doeloe pasti akrab dengan Pegadaian
38. Mahasiswa Jogja pasti tahu Wahana, Valent, dan Istana
39. Mahasiswa Jogja sejati pernah ninggal KTP atau KTM di rental VCD
40. Tanyakan "piye skripsi?" ke mahasiswa yang sudah lama di Jogja, niscaya anda membangunkan macan tidur
41. Mahasiswa Jogja pintar memelesetkan umpatan dalam kata-kata "asemmm..." dan "bajigur..." atau "bajilak..."
42. Mahasiswa rantau di Jogja dipastikan bingung dengan lor, kidul, wetan, dan kulon
43. Mahasiswa Jogja pasti paham singkatan nama jalan, seperti Jakal, Jamal, Jago, dll
44. Mahasiswa Jogja yang pernah lewat selokan mataram dalam keadaan gelap gulita, dipastikan tempoe doeoloe
45. Mahasiswa Jogja yang pernah lihat kebon tebu di Seturan, pasti juga tempoe doeloe
46. Sebagian besar mahasiswa Jogja kuliah di universitas swasta
47. Lha, jumlah universitas negeri itu cuma sebelah tangan, lho!
48. Mahasiswa Jogja pernah/harus/berencana/kudu ke Bukit Bintang
49. Mahasiswa Jogja yang pernah naik jalur 16 atau 17 dan bayar ongkos ke kernet, pasti mahasiswa jadul
50. Kapan itu lihat jalur 16 lewat, tua, kosong, dan tanpa kernet. Hiks
51. Bahasa Jawa mahasiswa Jogja yang non Jawa bakal campur aduk karena banyak temennya yang dari Malang, Surabaya, Semarang, Magelang, dll
52. Kos bebas adalah idaman para mahasiswa Jogja
53. Kos tidak bebas adalah idaman para orangtua mahasiswa Jogja
54. Sebagian mahasiswa Jogja pernah dimarahin Bapak/Ibu Kos temennya karena keseringan numpang mandi
55. Atau keseringan numpang tidur
56. Sebagian mahasiswa Jogja pernah pacaran...
57. ...di kamar kos
58. Dikunci pula
59. Sambil setel musik keras-keras
60. *then imagine*
61. Sebagian motor mahasiswa Jogja yang cewek dibawa sama pacarnya
62. Semacam harta gono-gini, gitu
63. Serta melayani antar jemput kampus ke kos
64. ...kemudian kembali ke nomor 55...
65. Sebagian mahasiswa Jogja adalah pasangan LDR
66. Baik LDR dengan pacar dari SMA (kalau yang ini pasti mahasiswa baru)
67. Atau LDR dengan pacar yang ketemu pas kuliah (kalau yang ini pacaran sama kakak angkatan)
68. Atau LDR dengan pacar di masa depan #eh (kalau ini ngimpi)
69. Mahasiswa Jogja masa kini paham Outlet Biru
70. Mahasiswa Jogja masa manapun perlu baca buku OOM ALFA
72. Sebagian mahasiswa Jogja dari jaman pertengahan punya TV tuner
73. Mahasiswa Jogja disebut perantauan sejati jika pernah ngutang
74. Sebagian mahasiswa Jogja berangkat ke kampus nggak pakai helm
75. Alasannya: kampus dekat
76. Biasa terjadi di Seturan, Paingan, Sekip, hingga Jakal Atas
77. Mahasiswa Jogja pasti pernah baca tulisan berjudul 123 Fakta Unik Mahasiswa Jogja
78. Sebagian eks mahasiswa Jogja itu ndeso
79. Jadi begitu pindah ke Jakarta dan makan di Plaza Senayan atau Grand Indonesia bakal kagok
80. Mahasiswa Jogja yang berasal dari Sumatera Barat pasti tahu bahwa sebagian pedagang di Malioboro adalah kawan sekampung
81. Mahasiswa Jogja kalau mau mudik bakal minta anter temen kos, biar ngirit
82. Mahasiswa Jogja yang mudik lewat Umbulharjo, pasti mahasiswa tempoe doeloe
83. Mahasiswa Jogja dari rantau yang jauh pasti tahu tarif taksi bandara nan semena-mena
84. Tahun 2007, bandara ke Paingan 30 ribu T_T
85. Jadi, kalau habis mudik, minta dijemput sama temen kos di bandara
86. Sebagian kecil mahasiswa Jogja pernah ketilang di terminal Jombor karena nggak tahu kalau jalannya searah
87. Ketika bencana, mahasiswa Jogja asal rantau pasti disuruh pulang oleh orangtuanya
88. Sebagian akan pulang beneran
89. Antara keder atau patuh orangtua
90. Sebagian lagi akan menjadi relawan
91. Sambil cari jodoh
92. Mahasiswa Jogja pasti paham cara mengendalikan diri di angkringan
93. Soalnya kalau kalap, tagihan membengkak gegara nasi kucing 5, jahe panas 1, gorengan 7, sate usus 2, sate telor puyuh 2, kerupuk 3
94. Mahasiswa Jogja yang ngamen akan membawa gitar bagus
95. Mahasiswa Jogja yang ngamen nggak akan cabut begitu dikasih duit, tapi ngelarin dulu lagunya
96. Eks mahasiswa Jogja terbiasa dengan harga makanan yang murah
97. Atau harga laundry murah
98. Atau harga koran murah di perempatan Gejayan
99. Sebagian besar eks mahasiswa Jogja menyayangkan banyaknya mal baru yang berdiri di Jogja dan sekitarnya
100. Mahasiswa Jogja pasti sepakat dengan statement terkenal ini: "Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan"
101. Sebagian mahasiswa Jogja cowok yg merantau pasti penasaran yg namanya Sarkem
101. Sebagian kecil dari poin 100 pernah mampir ke sana
102. Sekedar pengen tau aja suasana gang-gang di sana
103. Tapi gak mampir
104. Mungkin ada juga yang khilaf sih
105. Hampir semua mahasiswa Jogja pernah naik sepeda lampu di alun-alun selatan
106. Lalu nyobain berjalan tutup mata nembusin dua pohon beringin
107. Dan dikerjain temennya sampe ngakak luar biasa
108. Skaten adalah acara yg ditunggu-tunggu sebagian mahasiswa Jogja tiap tahun, hunting barang murah, ato sekedar jalan tapi gak beli
109. Keakraban dg AA' burjo menentukan peluang mahasiswa Jogja agar bisa ngebon nasi telor dikala kere melanda
110. Segelintir mahasiswa Jogja pernah mencoba masuk gerbang Parangtritis gak pake helm biar dikira orang kampung situ & gak bayar
111. Sebagian berhasil sebagian tidak
bagi yang pernah hidup di Jogja, pasti merasa bahwa setiap titik di Jogja adalah romantis! Jogja memang selalu istimewa 🙂
NB: saya tahu kalau yang benar ‘Yogyakarta’, tapi tulisan ini pakai nama ‘Jogja’ karena saya lebih nyaman menggunakannya.
Terima kasih.
#loveyogyaandyou #yogya #kenangandiyogya
#curuptoyogya #rltmedia #rejanglebongterkini
Wednesday, June 13, 2018
LAILATUL QODAR
Tamparan si penerima Lailatul Qodar (mung isoh patehah)
"Wah…pisange sae-sae(bagus-bagus), mbah." kataku sambil jongkok di depan simbah yang jual pisang.
"Lha monggo (silahkan) diborong, niki pisang panenan kula piyambak( ini pisang panen sendiri)." kata si mbah itu riang.
Sudah tua tetapi masih semangat berjualan.
"Niki pisang kepok kuning, enak dikolak. Sing niki kepok putih, yen digoreng legi(manis). Lha sing niku pisang pista, kulite tipis, wangi. Tapi ampun ditumbas mergo dereng mateng(jangan dibeli karena belum Mateng)." lanjut si mbah.
Aku hanya diam memperhatikan gerak tanganya yang cekatan, meskipun agak gemetar.
"Sadeane mpun dangu, mbah?" tanyaku.(jualan sudah lama Mbah?)
"Dereng. Niki nguber rejeki damel riyaden." Jawab simbah singkat.( Belum. Ini lagi nguber rezeki buat lebaran)
"Putrane pinten, mbah?" tanyaku.(putranya berapa Mbah)
"Kathah, glidik sedanten", jawab si mbah.(banyak, kerja semua)
"Kok mboten istirahat mawon, siyam-siyam kok sadean?" lanjutku menyelidik.(kok Ndak istirahat, puasa puasa kok jualan)
"Lha nggih mergi siyam niku, mboten angsal istirahat. Mumpung Gusti Allah paring ganjaran kathah", jawab si mbah ringan.( Lha karena puasa, nggak boleh istirahat. Mumpung Gusti Alloh ngasih banyak pahala)
Plak!!!
Mendengar jawaban seperti itu rasanya seperti ditampar. Sederhana namun sangat menohok. Kulirik simbah menyeka keringat yang mengalir di dahinya menggunakan ujung jilbabnya yang lusuh. Diantara para penjual dipinggir jalan depan pasar, simbah ini menggelar daganganya tanpa peneduh sedikitpun.. Padahal panasnya luar biasa.
"Jenengan wangsul jam pinten, mbah?" selidikku.( Pulang jam berapa Mbah?)
"Sakderenge ngashar kulo mpun wangsul. Kulo kedah ndamelaken wedang kangge lare-lare TPQ." Simbah menjelaskan padaku.( Sebelum asar sudah pulang. Harus buatkan minum buat anak TPA)
"Kok kedah nyiapaken? Ingkang ngudukaken sinten mbah?" tanyaku penasaran.( Kok nyiapin. Tugasnya siapa Mbah?)
"Njih kulo piyambak?" tandas si mbah.(ya saya sendiri)
"Ooo....ngaten. Nopo saben dinten mbah?", aku manggut-manggut. (Apa setiap hari Mbah?)
"Njih, wong cuma lare seket." lanjut si mbah.( Iya, cuma 50 anak)
"Wah....hebat mbah." pujiku sambil tersenyum.
"Halah cuma wedang kalih jajan alit-alit. Sing penting lare-lare niku rajin ngaji kulo mpun remen. Pokoke ojo niru mbahe niki mung iso patehah." jelas si mbah.( Halah, cuma air sama jajanan. Yang penting anak anak rajin ngaji saya sudah senang. Jangan sampai kaya saya yang cuma bisa Fatihah)
Plakkk!!!
Sekali lagi aku mendapat tamparan keras. Kali ini hatiku yang merasa sakit. Baru bisa baca Al Fatihah sudah sedemikian penghambaannya. Lha saya???
Tanpa ba bi bu, kumasukkan semua pisang yang ditawarkan ke dalam tas kresek.
"Kok kathah, bade damel nopo?" tanya si mbah heran.(kok banyak, mau buat apa?)
Sing mentah niki ampun lhe mas, dereng enak!" tambahnya.(yang mentah ini jangan lho, belum enak)
Aku pura-pura tak mendengar.
"Sedoyo pinten, mbah?"(berapa semua Mbah?)
Simbah menyebutkan nominal yang membuatku tercengang.
"Kok murah mbah?"
"Mboten mas, niku mpun pas. Kulo mboten kulakan, wong panen piyambak."(enggak, itu sudah pas. Pisang panen sendiri)
"Njih mbah maturnuwun." kataku sembari mengulurkan uang.
"Waduh…ngapunten, kulo mboten gadhah susuke. Dereng kepayon." berkata begitu sambil mengembalikan uangku.(maaf, nggak punya kembalian. Belum laku dari tadi)
"O nggih, kulo pados lintu riyen mbah."( Saya tukar dulu Mbah)
Aku sengaja meninggalkan simbah. Agak menjauh dari perempuan tua itu. Kumasukkan beberapa lembaran uang yang masih baru, ke dalam amplop.
"Niki mbah, sampun pas njih, pisange kulo tumbas."( Ini Mbah, sudah pas. Pisangnya saya beli)
Simbah menerima amplop sambil tangannya gemetaran..
Tanpa menunggu jawaban, aku buru-buru pergi.
Esoknya aku mampir lagi, tapi kosong. Berikutnya aku mampir lagi, kosong juga.
Penasaran kutanyakan pada pedagang sayur di sebelahnya.
"Mbahe kok mboten sadean, mbak?"( Simbahnya nggak jualan)
"Oh mboten, piyambake sadean namun nek panen mawon. Sampeyan to pak sing mborong gedhange wingi?"( Enggak. Jualan cuma pas panen saja. Mas yang borong pisang kemari?)
"Nggih mbak. Enten nopo?"( Iya mbak. Kenapa?)
"Oalah pakkkk... Paakkk, mbahe sampek nangis ngguguk. Jarene bejo banget entuk Qodaran."( Mbahnya nangis sesenggukan. Katanya beruntung dapat Qodaran)
Qodaran, barangkali maksudnya Lailatul Qodar. Malam yang lebih baik dari 1000 bulan.
Para malaikat turun dari langit.
Langit hati kita. Menyelesaikan segala urusan.
Allah melapangkan rejeki dan kemuliannya bagi yang dikehendaki. Pun mempersempit bagi yang dikehendaki pula.
Lantas siapakah yang mendapatkannya ?
Barangkali perempuan tua, penjual pisang itu. Bukan karena ia ahli ibadah. Bukan pula karena i’tikafnya yang kuat.
Tapi dialah pelaksana dari yang katanya "cuma iso patehah". Bertindak, berlaku, dan berpasrah dalam keriangan rasa.
Kecintaannya yang sederhana dengan penyiapan wedang dan jajanan bagi seketan bocah selama bulan puasa, agar anak-anak rajin mengaji.Tanpa berharap imbalan apapun. Sungguh bukan perkara mudah. Hanya cinta tuluslah yang bisa.
Maka, malam terbaik dari 1000 bulan bukanlah instan. Tak bisa dijujug dengan akhiran. Semua butuh proses, karena karunia terindah butuh wadah yang pantas.
Yang dibangun dengan menapis kebaikan sebelum, selama dan sesudah Ramadhan.
Itulah sesungguhnya QODARAN.
Bengi shalat tahajud, awan sregep makarya (bekerja)
Selamat berpuasa saudaraku muslim. Ditempa sebulan penuh, semoga kita menjadi hamba yang bertakwa. Hamba yang pantas mendapat Lailatul Qodar.
Aamiin
Terima kasih simbah, telah memberikan tamparan hikmah pada saya.
#Copas dari facebook seorang teman
Monday, April 16, 2018
Hardskill dan Softskill
*Hard skills* merupakan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan teknis yang berhubungan dengan bidang ilmunya. Hardskill dapat dilihat/diukur dari riwayat pendidikan.
Contoh hardskill adalah keterampilan teknis seperti keuangan, komputer, kualitas, atau keterampilan perakitan.
*Softskill* adalah keterampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (interpersonal skills) dan keterampilan dalam mengatur dirinya sendiri (intrapersonal skills) yang mampu mengembangkan unjuk kerja secara maksimal.
Soft skills bisa diartikan istilah sosiologis yang berkaitan dengan kecerdasan emosional, sifat kepribadian, ketrampilan sosial, komunikasi, berbahasa, kebiasaan pribadi, keramahan, dan optimisme yang mencirikan kemampuan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain.
Softskill dapat dilihat dari pengalaman dalam berorganisasi.
Contoh softskill adalah pribadi dan perilaku interpersonal yang mengembangkan dan memaksimalkan kinerja manusia misalnya, pelatihan, pembentukan tim, pengambilan keputusan, inisiatif. Contoh lain dari keterampilan-keterampilan yang dimasukkan dalam kategori soft skills adalah integritas, motivasi, etika, kerja sama dalam tim, kepemimpinan, kemauan belajar, komitmen, mendengarkan, tangguh, fleksibel, komunikasi lisan, jujur, berargumen logis, tahan banting, kompetisi, ulet, dan lainnya.
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/11/perbedaan-softskill-dan-hardskill/
Sunday, April 1, 2018
PARENTING
Pernah mencoba membetulkan keran sendiri? Pasang bohlam?
Ganti ban motor atau mobil yang bocor di jalan?
Me-lem sesuatu yang sdh terlanjur patah?
Membuka botol kaca yang allahuakbar sangat susah di buka?
Memasak sambil menggendong anak bahkan disambil lagi dgn menaruh pakaian kotor ke mesin cuci?
Nyetrika sambil bicara dgn mertua di telepon dan kaki menggoyang2kan bouncer agar bayi tidak bangun dan nangis tanpa henti?
Hidup ini penuh masalah, cobaan, kesulitan, tantangan dan pekerjaan susah yang kadang mau nggak mau harus kita kerjakan.
Di Indonesia enak. Tukang ledeng terjangkau, pembantu ada, supir banyak yang punya.
Yang pernah (atau masih) tinggal di negara maju tau betul bahwa pelayan dan pelayanan itu diluar jangkauan dompet kita pada umumnya.
Lha yang bekerja aja belum tentu bisa membayar mereka, apalagi yang keluar negeri nya untuk mengejar S3.
Kita nggak tau anak kita terlempar di bagian bumi Allah yang mana nanti, izinkan dia belajar menyelesaikan masalahnya sendiri.
Jangan memainkan semua peran, ya jadi ibu, ya jadi koki, ya jadi tukang cuci, ya jadi ayah, ya jadi tukang ledeng, ya jadi pengemudi.
Anda bukan anggota tim SAR, anak anda tidak dalam keadaan bahaya, berhentilah memberikan bantuan bahkan ketika sinyal S.O.S-nya tidak ada.
Jangan mencoba untuk membantu dan memperbaiki semuanya.
Anak ngeluh sedikit krn itu puzzle nggak bisa nyambung menjadi satu, ‘Sini... Ayah bantu’.
Botol minum ditutup rapatnya sedikit susah, ‘Sini... Mama saja’.
Sepatu bertali lama di ikat, sekolah sudah hampir telat... ‘Biar ayah aja deh yang kerjain’.
Kecipratan minyak sedikit... ‘Udah sini, kentangnya mama aja yang gorengin’.
Kapan anaknya bisa? Jangan kan di luar negeri, di Indonesia saja pembantu sudah semakin langka.
Kalau bala bantuan muncul tanpa adanya bencana, apa yang terjadi ketika bencana benar2 tiba?
Berikan anak-anak kesempatan untuk menemukan solusi mereka sendiri.
Kemampuan menangani stress, menyelesaikan masalah, dan mencari solusi itu ketrampilan yang wajib dimiliki.
Yang namanya ketrampilan, untuk bisa terampil, ya harus dilatih.
Kalau tanpa latihan, terus di harapkan simsalabim mereka jadi bisa sendiri? O-EM-JI!
Kemampuan menyelesaikan masalah
dan bertahan dalam kesulitan tanpa menyerah bisa berdampak sampai puluhan tahun ke depan.
Bukan saja bisa membuat seseorang lulus sekolah tinggi, tapi juga lulus melewati ujian badai2 pernikahan.
Tampaknya sepele sekarang... secara apa salahnya sih kita bantu?
Tapi jika anda segera bergegas menyelamatkannya dari segala kesulitannya, dia akan menjadi ringkih... dan mudah layu.
Susah sedikit... bantuan diminta.
Berantem sedikit ya sudahlah, cerai saja.
Sakit sedikit ngeluhnya warbyasa.
Masalah sedikit... bisa jadi gila.
Kalau anda menghabiskan banyak waktu, perhatian dan uang untuk IQ-nya, habiskan hal yang sama untuk AQ-nya juga.
AQ? Apa itu? Adversity Quotient.
Adversity quotient menurut Paul G. Stoltz dalam bukunya yg berjudul sama, adalah kecerdasan menghadapi kesulitan atau hambatan dan kemampuan bertahan dalam berbagai kesulitan hidup dan tantangan yang dialami.
Bukannya kecerdasan ini yg jadi lebih penting daripada IQ, untuk menghadapi masalah sehari-hari?
Bukankah itu yang di miliki Nabi Nuh hingga tidak menyerah dalam dakwah beratus tahun lamanya?
Atau Nabi Yusuf yang mengalami banyak cobaan dalam hidupnya?
Dan Nabi Ayyub yang terkenal karena kesabarannya menghadapi masalah?
Dan Nabi Muhammad ketika ujian2 menimpa?
Perasaan mampu melewati ujian juga luar biasa nikmatnya. Merasa bisa menyelesaikan masalah, mulai dari yang sederhana sampai yang susah, membuat diri semakin percaya.
Bahwa minta tolong hanya dilakukan ketika kita benar2 tdk lagi bisa.
Setelah di coba berkali-kali, berulang-ulang, tidak menyerah dalam waktu yang lama.
So izinkan anak anda melewati kesusahan.
Nggak apa2 sedikit luka, sedikit nangis, sedikit kecewa, sedikit telat dan sedikit kehujanan.
Akui kesulitan yang sedang dia hadapi.
Tahan lidah, tangan dan hati dari memberikan bantuan, ajari menangani frustrasi.
Kalau anda selalu jadi ibu peri, apa yang terjadi jika anda tdk bernafas lagi esok hari?
Bisa-bisa anak anda ikut mati.
Sulit memang untuk tidak mengintervensi,
ketika melihat anak sendiri susah, sakit dan sedih.
Apalagi dengan menjadi orangtua, insting pertama adalah melindungi, jadi melatih AQ ini adalah ujian kita sendiri.
Tapi hidup penuh dengan ketidakenakan.
Dan mereka harus bisa bertahan.
Melewati hujan, badai, dan kesulitan,
yang kadang tidak selalu bisa kita hindarkan.
"Permata hanyalah arang... yang bisa melewati tekanan dengan sangat baik"
Parenting With Elly Risman & Family
Monday, March 12, 2018
MBAH JUM
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1630417800338523&id=100001109553805
MBAH JUM
Oleh : Irene Radjiman
Begitulah beliau dipanggil. Aku sempat bertemu dengannya 5 tahun yang lalu saat berlibur di Kasian Bantul Yogyakarta. Nama desanya saya lupa.
Mbah Jum seorang tuna netra yang berprofesi sebagai pedagang tempe. Setiap pagi beliau dibonceng cucunya ke pasar untuk berjualan tempe. Sesampainya dipasar tempe segera digelar. Sambil menunggu pembeli datang, disaat pedagang lain sibuk menghitung uang dan ngerumpi dengan sesama pedagang, mbah Jum selalu bersenandung sholawat. Cucunya meninggalkan mbah Jum sebentar, karena ia juga bekerja sebagai kuli panggul dipasar itu. Dua jam kemudian, cucunya datang kembali untuk mengantar simbahnya pulang kerumah. Tidak sampai 2 jam dagangan tempe mbah Jum sudah habis ludes. Mbah Jum selalu pulang paling awal dibanding pedagang lainnya. Sebelum pulang mbah Jum selalu meminta cucunya menghitung uang hasil dagangannya dulu. Bila cucunya menyebut angka lebih dari 50 ribu rupiah, mbah Jum selalu minta cucunya mampir ke masjid untuk memasukkan uang lebihnya itu ke kotak amal.
Saat kutanya : “kenapa begitu ?”
“karena kata simbah modal simbah bikin tempe Cuma 20 ribu. Harusnya simbah paling banyak dapetnya yaa 50 ribu. Kalau sampai lebih berarti itu punyanya gusti Allah, harus dikembalikan lagi. Lha rumahnya gusti Allah kan dimasjid mbak, makanya kalau dapet lebih dari 50 ribu, saya diminta simbah masukkin uang lebihnya kemasjid.”
“Lho, kalo sampai lebih dari 50 ribu, itukan hak simbah, kan artinya simbah saat itu bawa tempe lebih banyak to ?” Tanyaku lagi
“Nggak mbak. Simbah itu tiap hari bawa tempenya ga berubah-ubah jumlahnya sama.” Cucunya kembali menjelaskan padaku.
“Tapi kenapa hasil penjualan simbah bisa berbeda-beda ?” tanyaku lagi
“Begini mbak, kalau ada yang beli tempe sama simbah, karena simbah tidak bisa melihat, simbah selalu bilang, ambil sendiri kembaliannya. Tapi mereka para pembeli itu selalu bilang, uangnya pas kok mbah, ga ada kembalian. Padahal banyak dari mereka yang beli tempe 5 ribu, ngasih uang 20 ribu. Ada yang beli tempe 10 ribu ngasih uang 50 ribu. Dan mereka semua selalu bilang uangnya pas, ga ada kembalian. Pernah suatu hari simbah dapat uang 350 ribu. Yaaa 300 ribu nya saya taruh dikotak amal masjid.” Begitu penjelasan sang cucu.
Aku melongo terdiam mendengar penjelasan itu. Disaat semua orang ingin semuanya menjadi uang, bahkan kalau bisa kotorannya sendiripun disulap menjadi uang, tapi ini mbah Jum…?? Aahhh…. Logikaku yang hidup di era kemoderenan jahiliyah ini memang belum sampai.
Sampai rumah pukul 10:00 pagi beliau langsung masak untuk makan siang dan malam. Ternyata mbah Jum juga seorang tukang pijat bayi (begitulah orang dikampung itu menyebutnya). Jadi bila ada anak-anak yang dikeluhkan demam, batuk, pilek, rewel, kejang, diare, muntah-muntah dan lain-lain, biasanya orang tua mereka akan langsung mengantarkan ke rumah mbah Jum. Bahkan bukan hanya untuk pijat bayi dan anak-anak, mbah Jum juga bisa membantu pemulihan kesehatan bagi orang dewasa yang mengalami keseleo, memar, patah tulang, dan sejenisnya. Mbah Jum tidak pernah memberikan tarif untuk jasanya itu, padahal beliau bersedia diganggu 24 jam bila ada yang butuh pertolongannya. Bahkan bila ada yang memberikan imbalan untuk jasanya itu, ia selalu masukan lagi 100% ke kotak amal masjid. Ya ! 100% ! anda kaget ? sama, saya juga kaget.
Ketika aku kembali bertanya : “kenapa harus semuanya dimasukkan ke kotak amal ?”
mbah Jum memberi penjelasan sambil tersenyum :
“Kulo niki sakjane mboten pinter mijet. Nek wonten sing seger waras mergo dipijet kaleh kulo, niku sanes kulo seng ndamel seger waras, niku kersane gusti Allah. Lha dadose mbayare mboten kaleh kulo, tapi kaleh gusti Allah.” (Saya itu sebenarnya nggak pinter mijit. Kalau ada yang sembuh karena saya pijit, itu bukan karena saya, tapi karena gusti Allah. Jadi bayarnya bukan sama saya, tapi sama gusti Allah).
Lagi-lagi aku terdiam. Lurus menatap wajah keriputnya yang bersih. Ternyata manusia yang datang dari peradaban kapitalis akan terkaget-kaget saat dihadapkan oleh peradaban sedekah tingkat tinggi macam ini. Dimana di era kapitalis orang sekarat saja masih bisa dijadikan lahan bisnis. Jangankan bicara GRATIS dengan menggunakan kartu BPJS saja sudah membuat beberapa oknum medis sinis.
Mbah Jum tinggal bersama 5 orang cucunya. Sebenarnya yang cucu kandung mbah Jum hanya satu, yaitu yang paling besar usia 20 tahun (laki-laki), yang selalu mengantar dan menemani mbah Jum berjualan tempe dipasar. 4 orang cucunya yang lain itu adalah anak-anak yatim piatu dari tetangganya yang dulu rumahnya kebakaran. Masing-masing mereka berumur 12 tahun (laki-laki), 10 tahun (laki-laki), 8 tahun (laki-laki) dan 7 tahun (perempuan).
Dikarenakan kondisinya yang tuna netra sejak lahir, membuat mbah Jum tidak bisa membaca dan menulis, namun ternyata ia hafal 30 juz Al-Quran. Subhanallah…!! Cucunya yang paling besar ternyata guru mengaji untuk anak-anak dikampung mereka. Ke-4 orang cucu-cucu angkatnya ternyata semuanya sudah qatam Al-Quran, bahkan 2 diantaranya sudah ada yang hafal 6 juz dan 2 juz.
“Kulo niki tiang kampong. Mboten saget ningali nopo-nopo ket bayi. Alhamdulillah kersane gusti Allah kulo diparingi berkah, saget apal Quran. Gusti Allah niku bener-bener adil kaleh kulo.” (saya ini orang kampong. Tidak bisa melihat apapun dari bayi. Alhamdulillah kehendak gusti Allah, saya diberi keberkahan, bisa hafal Al-Quran. Gusti Allah itu benar-benar adil sama saya).
Itu kata-kata terakhir mbah Jum, sebelum aku pamit pulang. Kupeluk erat dia, kuamati wajahnya. Kurasa saat itu bidadari surga iri melihat mbah Jum, karena kelak para bidadari itu akan menjadi pelayan bagi mbah Jum.
Matur nuwun mbah Jum, atas pelajaran sedekah tingkat tinggi 5 tahun yang lalu yang sudah simbah ajarkan pada saya di pelosok desa Yogyakarta.
SILAHKAN SHARE ATAU COPAS DENGAN MENYERTAKAN LINK BLOG INI.
DILARANG KERAS MENGAMBIL IDE CERITA INI UNTUK TUJUAN KOMERSIL TANPA SEIJIN PENULIS.
Wednesday, March 7, 2018
KODE DARI BOS BESAR
Lalu ambil obat nyamuk, terus tidur lagi
"AAAAHHHH..!!!! TIDAAAKK..!!!"
Huft.. Ternyata tadi mimpi buruk. Lihat jam masih jam 03.30
"Tidur lagi ah, lumayan masih shubuh masih lama nih"
Allah datang, eh kita malah tidur..
Terus bilang deh, "Kenapa sih kamu enggak peka sama aku?
"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya, maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)
1. Membiarkan sedikit pengetahuan ini hanya dibaca disini
2. Membagikan pengetahuan ini insyallah bermanfaat dan akan menjadi pahala bagimu. Aamiin..
Ya Allah...
ILMU CARI REJEKI
BEGINI CARA BISNIS KULINER BERTAHAN DI MASA RESESI!! Oktober ini berarti sudah 7 bulan pandemi mendera, entah sudah berapa kawan...
-
Orang-orang hebat sebenarnya hanyalah orang-orang biasa yang memiliki tekad yang luar biasa. Saat orang-orang disekeliling anda menyerah dan...
-
"ABCDEFG HIJKLMN OPQRST VWXYZ" do i miss something? ... oh yess.... I MISS U ...
-
orang jaman sekarang, berdoa untuk MEMINTA ... orang jaman dulu, berdoa untuk BERTERIMAKASIH ... feel the different.... ^_^

